Jejak Kerajaan Parigi dan Situs Cagar Budaya di Kabupaten Parigi Moutong
Menelusuri jejak Kerajaan Parigi dan situs cagar budaya di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dari pusat pemerintahan di Kelurahan Masigi.

Hal Penting
- Parigi adalah kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
- Pusat pemerintahan Kabupaten Parigi Moutong berada di Kelurahan Masigi.
- Kabupaten Parigi Moutong dibentuk melalui pemekaran wilayah pada awal 2000-an.
- Wilayah Parigi Moutong berada di pesisir barat Sulawesi Tengah menghadap Teluk Tomini.
- Situs cagar budaya di kawasan ini perlu dilestarikan sebagai identitas sejarah daerah.
Parigi, Kota Kecil di Tepi Teluk Tomini
Pagi di Kelurahan Masigi, orang-orang berjalan kaki ke kantor bupati, pasar, dan pelabuhan kecil. Di sinilah pusat pemerintahan Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Parigi sendiri adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibu kota kabupaten tersebut. Nama Parigi melekat pada banyak hal: jalan, sekolah, masjid, hingga kantor dinas. Bagi warga, Parigi bukan sekadar nama administratif. Ia adalah titik rujukan sejarah dan identitas.
Kabupaten Parigi Moutong terbentuk dari pemekaran wilayah di Sulawesi Tengah pada awal 2000-an. Sejak itu, Parigi tumbuh menjadi simpul layanan publik. Meski demikian, jejak masa lampau tidak hilang. Di beberapa sudut kota, bangunan tua, makam, dan situs yang diyakini warga sebagai peninggalan Kerajaan Parigi masih dijumpai. Cerita tentang kerajaan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, meskipun catatan tertulisnya tidak selalu lengkap.
Jejak Kerajaan Parigi
Kerajaan Parigi disebut dalam berbagai tutur rakyat sebagai salah satu kerajaan lama di pesisir barat Sulawesi Tengah. Wilayahnya mencakup kawasan pesisir yang kini menjadi bagian Kabupaten Parigi Moutong. Seperti kerajaan-kerajaan di Sulawesi, Parigi dipercaya memiliki struktur pemerintahan tradisional dengan raja dan pembesar adat. Namun, karena minimnya sumber primer yang mudah diakses, detail silsilah dan peristiwa besar sering hanya tersimpan dalam cerita lisan dan manuskrip yang belum terdokumentasi rapi.
Yang lebih pasti adalah jejak fisiknya. Di beberapa lokasi, warga setempat menunjukkan makam tua yang dianggap sebagai makam tokoh kerajaan. Ada pula lokasi yang diyakini sebagai bekas pusat permukiman lama. Sayangnya, belum semua situs ini terdata secara resmi sebagai cagar budaya. Kesadaran akan nilai sejarah mulai tumbuh, tetapi upaya pelestarian masih menghadapi keterbatasan anggaran dan tenaga ahli.
Pemerintah daerah dan komunitas sejarah setempat sesekali menggelar diskusi atau penelusuran bersama. Tujuannya sederhana: mengumpulkan informasi, memetakan lokasi, dan mendorong penetapan status cagar budaya bagi situs-situs yang memenuhi syarat. Tanpa data yang lengkap, langkah perlindungan hukum sulit dilakukan.
Situs Cagar Budaya dan Tantangan Pelestarian
Situs cagar budaya di Kabupaten Parigi Moutong belum sebanyak di daerah lain di Sulawesi. Namun, keberadaannya tetap penting. Situs-situs ini bisa berupa makam, bekas benteng sederhana, masjid tua, atau artefak yang ditemukan warga. Beberapa di antaranya berada di sekitar Kelurahan Masigi dan desa-desa pesisir lain. Akses menuju lokasi umumnya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau jalan kaki, tergantung kondisi medan.
Tantangan pelestarian cukup nyata. Pertama, keterbatasan data arkeologis dan historiografis. Kedua, tekanan pembangunan, terutama perluasan permukiman dan fasilitas umum. Ketiga, kurangnya pemahaman sebagian warga tentang pentingnya menjaga situs. Edukasi dan sosialisasi menjadi kunci. Sekolah-sekolah setempat bisa dilibatkan dalam kunjungan sejarah, sementara pemerintah desa dan kelurahan dapat memasukkan inventarisasi situs dalam program kerja.
Di sisi lain, ada peluang. Pariwisata budaya berbasis masyarakat bisa menjadi insentif pelestarian. Jika warga melihat situs mendatangkan manfaat, mereka cenderung menjaganya. Namun, pariwisata semacam ini harus dikelola hati-hati agar tidak merusak situs dan tetap menghormati nilai budaya setempat.
Menghidupkan Sejarah untuk Generasi Muda
Sejarah Kerajaan Parigi bukan hanya milik masa lalu. Ia bisa menjadi pijakan identitas bagi generasi muda Parigi Moutong. Cerita tentang kerajaan, situs, dan tokoh lokal dapat diintegrasikan ke dalam muatan lokal sekolah. Komunitas pemuda, karang taruna, dan kelompok seni bisa membuat proyek dokumentasi sederhana: merekam wawancara dengan tetua, memotret situs, dan mengunggahnya ke media sosial.
Upaya ini tidak memerlukan biaya besar. Yang dibutuhkan konsistensi dan rasa ingin tahu. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi dengan menyediakan pelatihan penulisan sejarah lisan atau pendampingan dari akademisi. Kerja sama dengan universitas di Sulawesi Tengah juga membuka jalan bagi penelitian yang lebih serius.
Pada akhirnya, jejak Kerajaan Parigi dan situs cagar budayanya adalah warisan bersama. Melestarikannya bukan tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab kolektif warga Parigi Moutong. Dari Kelurahan Masigi, cerita ini terus bergulir, menunggu untuk ditulis dan dijaga.
Cuplikan Video
Tanya Jawab Singkat
Di mana pusat pemerintahan Kabupaten Parigi Moutong?
Pusat pemerintahan Kabupaten Parigi Moutong berada di Kelurahan Masigi, Kecamatan Parigi.
Apakah Kerajaan Parigi masih ada sampai sekarang?
Kerajaan Parigi adalah entitas sejarah yang tidak lagi berdaulat. Jejaknya masih ditelusuri melalui cerita lisan dan situs yang diyakini peninggalannya.
Apakah situs cagar budaya di Parigi Moutong sudah terdata resmi?
Belum semua situs terdata resmi. Sebagian masih dalam tahap inventarisasi oleh pemerintah daerah dan komunitas sejarah setempat.
Bagaimana cara berkontribusi melestarikan situs sejarah Parigi?
Warga dapat terlibat dalam dokumentasi sejarah lisan, menjaga situs dari perusakan, dan mendukung program edukasi sejarah di sekolah dan komunitas.